Lenteng Agung Mencekam, Jalan Utama Ambles Hingga 3 Meter: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Bawah Tanah Jakarta?

Budi Santoso | UpdateKilat
29 Mei 2026, 10:55 WIB
Lenteng Agung Mencekam, Jalan Utama Ambles Hingga 3 Meter: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Bawah Tanah Jakarta?

UpdateKilat — Hiruk-pikuk arus lalu lintas di kawasan Jakarta Selatan mendadak berubah menjadi kepanikan masal. Sebuah insiden yang mengancam keselamatan publik terjadi di salah satu urat nadi transportasi ibu kota, yakni Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa. Sebuah lubang raksasa dengan kedalaman mencapai 3 meter tiba-tiba menganga, melahap badan aspal yang biasanya kokoh dipadati ribuan kendaraan setiap harinya. Peristiwa yang terjadi pada Kamis, 28 Mei 2026 ini, tidak hanya melumpuhkan arus kendaraan, tetapi juga mengungkap rapuhnya infrastruktur Jakarta di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit.

Kronologi Keheningan yang Berubah Menjadi Malapetaka

Ketegangan sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak Rabu malam, 27 Mei 2026. Berdasarkan laporan yang dihimpun tim di lapangan, sejumlah warga dan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) mulai menyadari adanya retakan yang tidak wajar di permukaan aspal. Laporan awal segera diteruskan ke pihak berwenang, namun karena kondisi cahaya yang minim dan risiko keamanan di malam hari, pemantauan mendalam baru bisa dilaksanakan pada keesokan paginya.

Read Also

Investigasi Mendalam Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL: Menelisik Dugaan Sinyal Eror hingga Standar Keamanan Gender

Investigasi Mendalam Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL: Menelisik Dugaan Sinyal Eror hingga Standar Keamanan Gender

Begitu matahari terbit pada Kamis, 28 Mei 2026, petugas dari Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan langsung bergerak ke lokasi. Upaya awal dilakukan dengan menggunakan coldmix—material aspal instan—sebagai langkah darurat untuk menutup retakan. Namun, alam seolah punya rencana lain. Kerusakan yang terlihat di permukaan hanyalah pucuk dari gunung es masalah yang jauh lebih besar di bawah tanah.

Mengintip Rahasia di Balik Aspal: Saluran Air yang “Kopong”

Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan, Rifki Rismal, dalam keterangannya mengungkapkan bahwa kondisi ini jauh lebih kompleks daripada sekadar aspal yang mengelupas. Penyelidikan mendalam yang dilakukan bersama Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan menemukan fakta mengejutkan: tanah di bawah badan jalan telah mengalami kekosongan struktural atau dalam istilah teknis disebut sebagai kondisi “kopong”.

Read Also

Dendam Membara di Balik Tragedi Berdarah Depok: Suami Kalap Ajak Rekan Keroyok Pria Hingga Terkapar

Dendam Membara di Balik Tragedi Berdarah Depok: Suami Kalap Ajak Rekan Keroyok Pria Hingga Terkapar

“Langkah penanganan ini kami lakukan beriringan dengan koordinasi ketat kepada pihak SDA. Mengapa? Karena penyebab kerusakan utama ternyata berakar pada saluran air yang berada tepat di bawah badan jalan,” ujar Rifki saat ditemui di lokasi peninjauan pada Jumat, 29 Mei 2026. Ia menjelaskan bahwa aliran air yang terus-menerus mengikis tanah di sekitar pipa saluran diduga menjadi penyebab utama hilangnya daya dukung tanah terhadap beban jalan di atasnya.

Kondisi Semakin Memburuk di Sore Hari

Meski penanganan awal telah dilakukan pada pagi hari, beban kendaraan yang melintas serta getaran konstan membuat struktur yang sudah rapuh tersebut tidak mampu bertahan lama. Pada Kamis sore, kondisi jalan justru kembali memburuk secara drastis. Retakan yang tadinya sempat tertutup kembali menganga, bahkan kali ini disertai dengan penurunan permukaan tanah yang lebih dalam.

Read Also

Imbas Kecelakaan di Bekasi Timur, Penumpang KA Purwojaya Terlantar: Cek Cara Refund Tiket 100 Persen

Imbas Kecelakaan di Bekasi Timur, Penumpang KA Purwojaya Terlantar: Cek Cara Refund Tiket 100 Persen

Melihat situasi yang semakin membahayakan bagi pengguna jalan, petugas segera mengambil langkah tegas dengan memasang water barrier di area terdampak. Langkah preventif ini dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, mengingat lubang yang terbentuk memiliki kedalaman yang cukup untuk menelan sebuah kendaraan roda dua sepenuhnya. Koordinasi dengan pihak Suku Dinas SDA pun ditingkatkan menjadi level darurat untuk segera melakukan penguatan struktur bawah tanah.

Lenteng Agung Lumpuh: Kemacetan Parah Menuju Depok

Dampak langsung dari fenomena jalan ambles ini dirasakan oleh ribuan komuter yang menggantungkan hidupnya pada jalur Lenteng Agung. Terpantau sejak pukul 09.00 WIB, kemacetan panjang tak terelakkan. Titik pusat kepadatan berada di sekitar bus stop TransJakarta SMAN 109 Jakarta, di mana kendaraan harus mengantre panjang untuk melewati penyempitan jalan.

Ekor kemacetan dilaporkan memanjang dari Jalan Lontar hingga menuju arah Depok dan Universitas Indonesia (UI). Suasana di lapangan terasa sangat menyesakkan; deru mesin kendaraan berpadu dengan suara klakson yang bersahut-sahutan. Para pengendara motor tampak nekat menyelip di sela-sela mobil, sementara bus TransJakarta terpaksa melaju sangat perlahan demi keamanan penumpang.

Dilema Penumpang dan Cerita dari Lapangan

Kemacetan yang terjadi bertepatan dengan hari kedua setelah perayaan Idul Adha ini menambah beban psikologis bagi warga. Banyak warga yang akhirnya memilih cara alternatif demi mengejar waktu. Muhammad Arif, salah satu warga yang terjebak dalam kepadatan tersebut, menceritakan bagaimana rute perjalanan harus dialihkan secara mendadak.

“Rute TransJakarta saat ini hanya sampai Wijaya Kusuma, lalu harus putar balik di Universitas Pancasila. Banyak penumpang yang akhirnya menyerah dan memilih turun di Stasiun Lenteng Agung untuk lanjut menggunakan KRL agar tidak terjebak macet lebih lama,” kata Arif dengan nada frustrasi. Fenomena ini menciptakan gelombang perpindahan moda transportasi secara mendadak di kawasan tersebut.

Insiden Pemotor dan Aksi Heroik Warga

Di tengah situasi yang carut-marut, sempat terjadi insiden yang menegangkan. Seorang pengendara motor dilaporkan terperosok ke dalam area yang terdampak amblesan. Ironisnya, insiden ini dipicu oleh tindakan nekat pengendara tersebut yang mencoba melawan arah demi menghindari kemacetan.

Beruntung, kesiapsiagaan warga sekitar dan petugas di lapangan mencegah terjadinya tragedi. Ijoel, atau yang akrab disapa Rafli Zulkarnaen, seorang relawan warga, menceritakan bagaimana proses evakuasi berlangsung dramatis. “Tadi ada warga yang nyemplung karena nekat lawan arah. Kami langsung menghubungi Damkar Jakarta Selatan, lalu bersama-sama dengan petugas Bina Marga dan warga lainnya gotong royong mengangkat motor dan korban,” ungkapnya.

Masa Depan Penanganan Infrastruktur Jakarta

Kasus di Lenteng Agung ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengenai pentingnya audit menyeluruh terhadap saluran air bawah tanah. Fenomena tanah kopong bukanlah hal baru di kota besar, namun kekerapan kejadiannya menuntut adanya sistem deteksi dini yang lebih canggih. Suku Dinas Bina Marga saat ini tengah fokus pada perbaikan permanen yang diperkirakan akan memakan waktu beberapa hari ke depan.

Hingga berita ini diturunkan, alat berat ekskavator telah dikerahkan ke lokasi untuk membongkar bagian aspal yang menggantung dan memperkuat dinding saluran air. Masyarakat diimbau untuk mencari jalur alternatif dan menghindari kawasan Lenteng Agung selama proses perbaikan berlangsung. Keselamatan adalah prioritas utama, dan kerja sama antara masyarakat serta pemerintah sangat dibutuhkan untuk memulihkan kembali denyut nadi transportasi di Jakarta Selatan.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *