Kesaksian Pilu Hendro Prasetyo: Bertaruh Nyawa di Misi Global Sumud Flotilla dan Kekejaman di Balik Jeruji Israel

Budi Santoso | UpdateKilat
25 Mei 2026, 06:54 WIB
Kesaksian Pilu Hendro Prasetyo: Bertaruh Nyawa di Misi Global Sumud Flotilla dan Kekejaman di Balik Jeruji Israel

UpdateKilat — Suasana haru biru menyelimuti Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu sore, 24 Mei 2026. Isak tangis keluarga pecah saat sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang sempat ditahan oleh otoritas keamanan Israel akhirnya menginjakkan kaki kembali di tanah air. Mereka adalah para aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF), sebuah misi pelayaran internasional yang bertujuan menembus blokade demi membawa bantuan ke jalur Gaza.

Di antara kerumunan itu, tampak Hendro Prasetyo, seorang pemuda berusia 24 tahun yang raut wajahnya masih menyiratkan kelelahan mendalam, namun matanya tetap memancarkan keberanian. Hendro bukan sekadar saksi mata; ia adalah penyintas dari rentetan peristiwa mencekam di tengah laut hingga penyiksaan fisik yang melampaui batas kemanusiaan di dalam sel tahanan Israel.

Read Also

Ancaman Invasi Ikan Sapu-Sapu: Pramono Anung Instruksikan Pembersihan Massal di Seluruh Penjuru Jakarta

Ancaman Invasi Ikan Sapu-Sapu: Pramono Anung Instruksikan Pembersihan Massal di Seluruh Penjuru Jakarta

Misi Suci di Tengah Samudera

Bagi Hendro, keputusannya untuk bergabung dengan Global Sumud Flotilla bukanlah sebuah impuls remaja atau keinginan untuk sekadar mencari sensasi. Ada keyakinan ideologis yang mendalam di balik keberaniannya mengarungi samudera. Ia merasa terpanggil untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina dan menuntut pembebasan ribuan tahanan yang nasibnya terkatung-katung di penjara-penjara pendudukan.

“Ini bukan perjalanan singkat yang diputuskan dalam semalam. Kami membawa misi kemanusiaan, membawa harapan dari rakyat Indonesia untuk saudara-saudara kita di sana,” ujar Hendro dengan suara yang tenang namun tegas saat diwawancarai awak media di bandara. Namun, harapan itu harus berbenturan dengan realita pahit ketika kapal yang mereka tumpangi dicegat secara paksa di perairan internasional.

Read Also

Skandal Pengkhianatan Mandat: Mengurai Peran Eks Anggota Ombudsman Yeka Hendra dalam Pusaran Korupsi CPO

Skandal Pengkhianatan Mandat: Mengurai Peran Eks Anggota Ombudsman Yeka Hendra dalam Pusaran Korupsi CPO

Mencekam: Detik-Detik Intersepsi dan Strategi Pemutusan Komunikasi

Ketegangan mulai memuncak ketika beberapa drone pengintai mulai terlihat berputar-putar di atas kapal GSF. Hendro menceritakan bagaimana atmosfer di atas kapal berubah drastis dari penuh semangat menjadi penuh kewaspadaan. Mengetahui bahwa penangkapan sudah di depan mata, para aktivis segera mengambil langkah strategis untuk melindungi data dan informasi internal.

“Begitu kami sadar drone-drone itu semakin mendekat, seluruh tim sepakat untuk membuang semua alat komunikasi ke laut. Kami tidak ingin informasi sensitif atau data pribadi para aktivis disalahgunakan oleh pihak Israel untuk kepentingan propaganda atau intimidasi lebih lanjut,” kenang Hendro. Tanpa perlawanan fisik yang berarti, karena prinsip misi ini adalah non-kekerasan, Hendro dan rekan-rekannya akhirnya dipaksa masuk ke dalam kontainer sebuah kapal militer untuk dibawa menuju pusat penahanan.

Read Also

Lawan Balik Kasasi Jaksa, Delpedro Cs Layangkan 5 Poin Tuntutan di PN Jakarta Pusat

Lawan Balik Kasasi Jaksa, Delpedro Cs Layangkan 5 Poin Tuntutan di PN Jakarta Pusat

Teror Mental: Ledakan Bom Sebagai Pendamping Makan

Alih-alih mendapatkan perlakuan selayaknya tawanan sipil, Hendro mengaku ia dan rekan-rekannya justru dihujani tekanan mental yang sistematis. Salah satu metode yang paling membekas dalam ingatannya adalah penggunaan suara ledakan bom atau granat kejut (stun grenades) yang dilancarkan secara berkala. Teror suara ini sengaja dilakukan untuk merusak ritme istirahat dan ketenangan para aktivis.

“Ada suara-suara ledakan yang sengaja mereka lancarkan, entah itu menjelang siang atau di tengah malam. Bahkan saat kami sedang diberi kesempatan untuk makan, suara-suara itu muncul sebagai bentuk ancaman fisik dan psikis agar kami terus merasa tertekan,” ungkapnya. Ruang kontainer yang sempit, panas, dan penuh intimidasi menjadi rumah baru mereka selama beberapa hari yang terasa seperti selamanya.

Hunger Strike: Perlawanan dalam Diam dan Ketakutan Akan Racun

Sebagai bentuk solidaritas terhadap para tahanan Palestina yang telah lama mendekam di penjara Israel, Hendro dan kawan-kawan memutuskan untuk melakukan aksi mogok makan atau hunger strike. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan yang kuat. Ada filosofi getir yang mereka pegang selama di dalam penjara: “Segala kebaikan Israel adalah penderitaan bagi kami.”

Selain sebagai bentuk protes, aksi mogok makan ini juga didasari oleh rasa curiga yang luar biasa terhadap makanan yang diberikan oleh para penjaga penjara. Meskipun mereka diberikan roti dan air mineral, ketakutan akan kemungkinan adanya zat berbahaya atau racun membuat mereka enggan menyentuh jatah tersebut. “Saya pribadi melakukan mogok makan total, tidak menyentuh rotinya sama sekali. Namun, pada akhirnya saya terpaksa meminum sedikit air karena dehidrasi yang sudah sangat parah dan mengancam nyawa,” jelas Hendro.

Puncak Penderitaan: “Disetrum Adalah yang Paling Menyakitkan”

Bagian paling kelam dari pengakuan Hendro adalah saat ia menceritakan penyiksaan fisik yang dialaminya. Kekerasan fisik seolah menjadi menu harian bagi para aktivis. Hendro memaparkan bagaimana dirinya dipukul, ditonjok, hingga diinjak-injak oleh oknum tentara. Namun, dari semua itu, penggunaan alat kejut listrik adalah yang paling meninggalkan trauma mendalam.

“Disetrum adalah penyiksaan yang paling menyakitkan bagi saya. Rasanya seluruh saraf seakan ditarik paksa. Itu bukan sekadar luka fisik, tapi upaya untuk menghancurkan martabat manusia,” kata Hendro dengan tatapan yang menerawang. Menurutnya, jika pada misi-misi sebelumnya penyiksaan hanya menyasar tokoh-tokoh penting, kali ini Israel seolah tidak pandu bulu; semua aktivis yang tertangkap merasakan kekejaman yang sama.

Respons Pemerintah: Kecaman Keras di Panggung Dunia

Kedatangan Hendro dan delapan rekannya disambut langsung oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono. Dalam pidatonya, Menlu Sugiono menyampaikan rasa syukur sekaligus kecaman keras atas apa yang menimpa para WNI tersebut. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa tindakan Israel adalah pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.

“Mereka adalah masyarakat sipil yang mengusahakan bantuan kemanusiaan. Apa yang mereka alami tidak bisa diterima dan tidak boleh dibiarkan. Kami telah menyampaikan kecaman keras ini di sidang Dewan Keamanan PBB pada 21 Mei lalu,” tegas Sugiono. Menlu juga memberikan apresiasi khusus kepada pemerintah Turki, Yordania, dan Mesir yang telah berperan besar dalam memfasilitasi evakuasi para aktivis dari Ashdod menuju tanah air.

Suara yang Tidak Akan Berhenti

Meski pelayaran kali ini gagal mencapai bibir pantai Gaza, bagi Hendro Prasetyo, perjalanan ini jauh dari kata usai. Pengalaman pahit disiksa dan disekap justru menjadi bahan bakar baru bagi semangatnya. Ia percaya bahwa apa yang ia alami hanyalah sebagian kecil dari penderitaan panjang rakyat Palestina yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Kisah Hendro adalah pengingat bagi dunia bahwa di balik angka-angka statistik konflik, ada manusia-manusia yang berkorban nyawa demi sebuah nilai bernama kemanusiaan. Hukum internasional mungkin sering kali terlihat tumpul, namun suara-suara seperti Hendro memastikan bahwa isu ini akan tetap hidup dan bergaung di telinga masyarakat dunia. Bagi UpdateKilat, keberanian Hendro dan rekan-rekannya adalah bukti bahwa solidaritas lintas batas tidak akan pernah bisa dipenjara oleh tembok apa pun.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *