Mengenal Jenis Puasa Sebelum Idul Adha: Penjelasan Lengkap, Niat, dan Keutamaan yang Menghapus Dosa

Ustadzah Sarah | UpdateKilat
25 Mei 2026, 04:56 WIB
Mengenal Jenis Puasa Sebelum Idul Adha: Penjelasan Lengkap, Niat, dan Keutamaan yang Menghapus Dosa

UpdateKilat — Menjelang perayaan hari raya Idul Adha atau yang sering disebut sebagai Lebaran Haji, suasana spiritualitas di tengah umat Islam biasanya mulai meningkat secara signifikan. Bulan Dzulhijjah bukan sekadar tentang penyembelihan hewan kurban, melainkan sebuah momentum emas untuk mendulang pahala melalui berbagai amalan sunnah, salah satunya adalah dengan menjalankan ibadah puasa. Namun, banyak yang masih bertanya-tanya, apa sebenarnya nama puasa sebelum Idul Adha dan bagaimana tata cara menjalankannya secara benar sesuai syariat?

Bulan Dzulhijjah sendiri secara istimewa masuk dalam kategori Asyhurul Hurum atau bulan-bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Pada periode ini, pintu rahmat terbuka lebar, dan setiap amal saleh yang dikerjakan mendapatkan bobot pahala yang jauh lebih besar dibandingkan hari-hari biasanya. Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa sepuluh hari pertama di bulan ini adalah waktu yang paling dicintai Allah untuk hambanya beribadah.

Read Also

Panduan Lengkap Adab Membaca Al-Qur’an: Cara Benar Meraih Syafaat dan Keberkahan Hakiki

Panduan Lengkap Adab Membaca Al-Qur’an: Cara Benar Meraih Syafaat dan Keberkahan Hakiki

Menyelami Makna 10 Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai jenis puasanya, penting untuk memahami mengapa periode ini begitu sakral. Mengacu pada berbagai literatur fiqih seperti Buku Bekal-Bekal Idul Adha, sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan waktu di mana ketaatan seorang hamba benar-benar diuji dan diapresiasi. Di sinilah umat Islam diajak untuk merefleksikan kembali ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Keutamaan ini ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas RA, di mana Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini. Oleh karena itu, menjalankan puasa sunnah menjadi cara terbaik bagi kita yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci untuk ikut merasakan getaran spiritualitas wukuf di Arafah.

Read Also

Panduan Lengkap Doa Umroh untuk Orang Lain: Spiritualitas dan Keberkahan yang Tak Terputus

Panduan Lengkap Doa Umroh untuk Orang Lain: Spiritualitas dan Keberkahan yang Tak Terputus

Tiga Jenis Puasa Sebelum Idul Adha yang Wajib Diketahui

Secara garis besar, terdapat tiga klasifikasi puasa yang dapat dijalankan oleh umat Muslim sebelum memasuki tanggal 10 Dzulhijjah. Berikut adalah rincian mendalam mengenai masing-masing puasa tersebut:

1. Puasa Dzulhijjah (Tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah)

Puasa ini merupakan rangkaian ibadah pembuka yang dilakukan sejak awal bulan. Meskipun sering disebut sebagai satu kesatuan, puasa pada tujuh hari pertama ini memiliki esensi untuk membersihkan diri sebelum memasuki hari-hari puncak. Melaksanakan puasa di awal bulan ini merupakan bentuk respons atas anjuran umum untuk memperbanyak ibadah di hari-hari istimewa.

Niat Puasa Dzulhijjah:

“Nawaitu shauma syahri dzil hijjah sunnatan lillahi ta’ala.”

Read Also

Akses Super Dekat Bus Shalawat: Strategi Jitu Memanjakan Jemaah Haji Indonesia di Kota Makkah

Akses Super Dekat Bus Shalawat: Strategi Jitu Memanjakan Jemaah Haji Indonesia di Kota Makkah

Artinya: “Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”

2. Puasa Tarwiyah (Tanggal 8 Dzulhijjah)

Secara etimologi, nama “Tarwiyah” berasal dari kata tarawwa yang berarti membawa bekal air. Secara historis, ini merujuk pada aktivitas para jamaah haji di masa lalu yang mempersiapkan air sebelum mereka menuju Padang Arafah untuk melakukan wukuf. Puasa ini memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jembatan menuju hari Arafah.

Berdasarkan riwayat dari Al-Dailami, disebutkan bahwa puasa pada hari Tarwiyah mampu menghapuskan dosa-dosa yang telah dilakukan selama satu tahun penuh. Ini adalah kesempatan luar biasa bagi setiap Muslim untuk melakukan pembersihan jiwa melalui ibadah puasa yang khusyuk.

Niat Puasa Tarwiyah:

“Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala.”

Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”

3. Puasa Arafah (Tanggal 9 Dzulhijjah)

Inilah puncak dari segala puasa sunnah menjelang Idul Adha. Puasa Arafah dilaksanakan bertepatan dengan momen wukuf para jamaah haji. Bagi mereka yang tidak sedang berada di tanah suci, Puasa Arafah adalah amalan yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah). Keutamaannya sangat fantastis, yakni dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Niat Puasa Arafah:

“Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillahi ta’ala.”

Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”

Tata Cara dan Etika Menjalankan Puasa Sunnah

Secara teknis, tata cara menjalankan ketiga puasa di atas tidak berbeda dengan puasa pada umumnya. Dimulai dengan niat yang ikhlas di dalam hati (boleh diucapkan atau dalam batin), kemudian menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa—seperti makan, minum, dan hubungan suami istri—mulai dari terbit fajar (Subuh) hingga terbenamnya matahari (Maghrib).

Sangat dianjurkan untuk tetap menjaga kualitas ibadah lain saat berpuasa, seperti memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah. Hindarilah perbuatan sia-sia atau perkataan yang buruk agar esensi dari puasa tersebut tidak berkurang.

Polemik Berpuasa bagi Jamaah Haji: Perspektif Empat Mazhab

Menarik untuk dicatat bahwa terdapat perbedaan pandangan hukum mengenai pelaksanaan puasa Arafah bagi mereka yang sedang menunaikan ibadah haji. Mengingat medan di Arafah yang berat dan tuntutan fisik untuk berdoa secara intensif, para ulama memberikan rincian sebagai berikut:

  • Mazhab Malikiyah: Memandang sangat makruh bagi jamaah haji untuk berpuasa Arafah, karena disunnahkan untuk menjaga stamina demi kelancaran ibadah wukuf.
  • Mazhab Hanafiyah: Memberikan kelonggaran; jika puasa tidak membuat fisik lemah, maka diperbolehkan. Namun jika mengganggu kekhusyukan doa, maka hukumnya makruh.
  • Mazhab Syafi’iyah: Menyarankan jamaah haji untuk tidak berpuasa (berbuka) secara mutlak jika mereka adalah musafir. Namun bagi penduduk lokal Makkah yang sedang berhaji, aturannya bisa berbeda tergantung kondisi fisik.
  • Mazhab Hanabilah: Menitikberatkan pada waktu pelaksanaan; makruh jika wukuf dilakukan di siang hari, namun diperbolehkan jika dilakukan di malam hari.

Mengapa 10 Hari Pertama Dzulhijjah Begitu Istimewa?

Selain puasa, ada lima keutamaan mendasar yang menjadikan hari-hari ini begitu krusial dalam kalender Islam:

  1. Simbolisme Sumpah Allah: Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Fajr: 1-2), Allah bersumpah demi “fajar dan malam yang sepuluh”. Para ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari awal Dzulhijjah.
  2. Penghapusan Dosa Secara Masif: Khususnya melalui Puasa Arafah, Allah memberikan fasilitas pengampunan dosa untuk durasi dua tahun sekaligus.
  3. Manifestasi Tauhid: Di hari-hari ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak Takbir, Tahmid, dan Tahlil sebagai bentuk pengakuan atas keagungan Allah.
  4. Waktu Terbaik untuk Amal Jariyah: Sedekah yang dikeluarkan pada periode ini memiliki nilai yang melampaui sedekah di bulan-bulan lainnya.
  5. Penyempurnaan Ibadah: Puasa menjadi pelengkap bagi mereka yang belum mampu berkurban secara materi, namun ingin menunjukkan ketaatan yang tulus.

Jadwal Puasa Menjelang Idul Adha 2026

Sebagai panduan untuk mempersiapkan diri, berdasarkan estimasi kalender Islam 1447 H, berikut adalah perkiraan jadwal puasa yang bisa Anda catat:

  • Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah): Senin, 25 Mei 2026.
  • Puasa Arafah (9 Dzulhijjah): Selasa, 26 Mei 2026.
  • Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah): Rabu, 27 Mei 2026.

Demikian ulasan mendalam mengenai nama-nama puasa sebelum Idul Adha beserta tata cara dan keutamaannya. Semoga artikel dari UpdateKilat ini dapat menjadi panduan bermanfaat bagi Anda dalam mengisi hari-hari mulia Dzulhijjah dengan ketaatan yang maksimal. Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk meraih ampunan dan keberkahan dari Allah SWT.

Ustadzah Sarah

Ustadzah Sarah

Penulis konten religi dan lulusan studi Islam yang berdedikasi menyebarkan konten positif di Kilat Islami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *