Pulang dari Neraka Ketziet: Kronologi Lengkap dan Kisah Haru 9 WNI Korban Penahanan Tentara Israel

Budi Santoso | UpdateKilat
24 Mei 2026, 22:56 WIB
Pulang dari Neraka Ketziet: Kronologi Lengkap dan Kisah Haru 9 WNI Korban Penahanan Tentara Israel

UpdateKilat — Suasana haru menyelimuti Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (24/5/2026). Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan internasional akhirnya menginjakkan kaki kembali di tanah air. Kepulangan mereka bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah akhir dari episode mencekam yang melibatkan penahanan paksa, tekanan psikologis, hingga dugaan penyiksaan fisik di tangan tentara Israel.

Perjalanan panjang ini bermula dari niat mulia untuk menembus blokade dan mengantarkan bantuan ke Gaza melalui misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Namun, kapal yang mereka tumpangi dicegat di tengah laut lepas, memicu rangkaian peristiwa yang menguji ketahanan mental dan fisik para relawan lintas negara tersebut.

Read Also

Tragedi Berdarah di Balik Tembok Benhil: Polisi Telisik Dugaan TPPO dan Eksploitasi Anak pada Kasus PRT Terjun Bebas

Tragedi Berdarah di Balik Tembok Benhil: Polisi Telisik Dugaan TPPO dan Eksploitasi Anak pada Kasus PRT Terjun Bebas

Penangkapan di Laut Lepas dan Penjara Ketziet

Maimon Herawati, Koordinator GSF sekaligus perwakilan Indonesia, mengungkapkan bahwa proses penahanan dimulai saat kapal mereka dipaksa bersandar di Pelabuhan Ashdod. Dari sana, para relawan dipisahkan dan dibawa menuju Penjara Ketziet, sebuah fasilitas penahanan yang dikenal memiliki pengamanan super ketat di tengah gurun Negev, Israel.

Selama di penjara, akses komunikasi benar-benar diputus. Para relawan tidak hanya menghadapi interogasi yang intens, tetapi juga perlakuan yang jauh dari standar kemanusiaan. Beberapa laporan menyebutkan adanya tindakan intimidasi yang dilakukan secara sistematis untuk menjatuhkan moral para aktivis. Beruntung, dukungan hukum segera datang dari organisasi Adalah, sebuah pusat hukum untuk hak minoritas Arab di Israel, yang berupaya keras memberikan pendampingan hukum di tengah situasi yang sangat terbatas.

Read Also

Presiden Prabowo di Jawa Timur: Menghormati Jejak Juang Marsinah hingga Memperkuat Pondasi Kedaulatan Pangan Nasional

Presiden Prabowo di Jawa Timur: Menghormati Jejak Juang Marsinah hingga Memperkuat Pondasi Kedaulatan Pangan Nasional

Dua Wajah Tentara Israel: Pencitraan vs Realita

Salah satu poin paling mengejutkan yang disampaikan oleh Maimon adalah mengenai perilaku tentara Israel yang dianggap memiliki “dua wajah”. Ia menceritakan bagaimana para relawan mengalami kekerasan fisik justru saat mereka sedang dipindahkan dari Penjara Ketziet menuju Bandara Ramon di Eilat menggunakan bus.

“Berdasarkan pengakuan teman-teman, saat berada di depan kamera atau di ruang publik, mereka (tentara Israel) tampak bersikap manis atau ‘so sweet’. Namun, begitu berada di belakang kamera atau di dalam bus yang tertutup, tindakan kasar seperti pemukulan, tendangan, hingga penyetruman dilakukan tanpa ragu,” ungkap Maimon dengan nada getir. Hal ini memperkuat dugaan bahwa ada upaya pencitraan yang sengaja dibangun oleh otoritas setempat untuk menutupi realita kekerasan di lapangan.

Read Also

Hardiknas 2026: Strategi Fahira Idris Perkuat Kualitas Guru dan Pemerataan Akses Pendidikan Menuju Indonesia Emas

Hardiknas 2026: Strategi Fahira Idris Perkuat Kualitas Guru dan Pemerataan Akses Pendidikan Menuju Indonesia Emas

Cerita mengenai penyiksaan relawan ini menambah daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia yang kerap terjadi dalam konflik di kawasan tersebut. Selain penyetruman, beberapa relawan juga mengaku mengalami teror psikologis berupa ancaman ledakan granat dan tindakan menelanjangi tahanan guna meruntuhkan martabat mereka sebagai manusia.

Diplomasi Kilat dan Peran Vital Turkiye

Pembebasan sembilan WNI ini tidak lepas dari diplomasi tingkat tinggi yang melibatkan berbagai negara. Maimon menjelaskan bahwa pihaknya telah membangun jaringan koordinasi dengan negara-negara tetangga seperti Turkiye, Yordania, Mesir, hingga Siprus. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi jika para relawan dideportasi melalui jalur yang berbeda-beda.

“Kami sudah menyiapkan tim GSF di setiap titik kemungkinan, baik itu di Yordania maupun Mesir. Namun, fokus utama akhirnya beralih ke Turkiye karena kesiapan logistik dan dukungan politik mereka yang sangat kuat terhadap misi ini,” tambahnya. Peran Turkiye terbukti sangat krusial dalam proses evakuasi ini.

Awalnya, pemerintah Turkiye hanya berencana mengirimkan satu pesawat untuk menjemput para relawan. Namun, setelah dilakukan lobi dan koordinasi yang intensif mengenai kondisi kesehatan para aktivis, jumlah tersebut ditambah secara signifikan. Turkiye akhirnya mengirimkan tiga pesawat sekaligus ke Bandara Ramon guna memastikan seluruh relawan dapat diterbangkan langsung ke Istanbul untuk menjalani pemeriksaan medis menyeluruh dan proses visum sebagai bukti hukum di masa depan.

Langkah Hukum dan Visum di Istanbul

Keputusan untuk membawa para relawan ke Istanbul terlebih dahulu merupakan langkah strategis. Di sana, mereka tidak hanya sekadar transit, tetapi juga menjalani serangkaian prosedur medis untuk mendokumentasikan bekas-bekas luka akibat kekerasan yang dialami selama di penjara. Data visum ini dianggap sangat penting sebagai bahan untuk membangun kasus hukum internasional terhadap tindakan semena-mena tentara Israel.

Dengan adanya bukti medis yang kuat, pelanggaran HAM yang dialami oleh para WNI dan relawan internasional lainnya diharapkan dapat diproses lebih lanjut di forum-forum global. Hal ini menunjukkan bahwa misi Global Sumud Flotilla bukan hanya sekadar aksi fisik di lapangan, tetapi juga sebuah perjuangan hukum untuk menuntut keadilan.

Kepulangan ke Tanah Air: Sinergi dengan Kemenlu

Setelah melalui proses yang melelahkan di Istanbul, estafet pemulangan dilanjutkan oleh Pemerintah Indonesia. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI mengambil peran aktif dalam memastikan para pahlawan kemanusiaan ini bisa kembali ke pelukan keluarga dengan selamat dan cepat.

Maimon menyampaikan apresiasi yang mendalam atas respons cepat Kemenlu RI. Pihak kementerian tidak hanya menyediakan tiket pesawat untuk rute Istanbul-Jakarta, tetapi juga memberikan fasilitas kemudahan dalam proses imigrasi dan pengamanan setibanya di Bandara Soekarno-Hatta. Kehadiran perwakilan pemerintah di bandara menjadi simbol bahwa negara hadir untuk melindungi warganya yang berjuang di jalur kemanusiaan internasional.

Daftar Kronologi Singkat Pemulangan:

  • Pencegatan Kapal: Kapal misi kemanusiaan GSF dihentikan paksa dan ditarik ke Pelabuhan Ashdod.
  • Penahanan: Relawan dibawa ke Penjara Ketziet dan mengalami intimidasi serta kekerasan fisik.
  • Diplomasi: Koordinasi intensif antara GSF, Pemerintah Turkiye, dan Kemenlu RI.
  • Evakuasi: Pemindahan relawan dari penjara ke Bandara Ramon dengan bus, diiringi kekerasan tersembunyi.
  • Penerbangan ke Istanbul: Penjemputan menggunakan 3 pesawat militer/pemerintah Turkiye untuk keperluan medis dan visum.
  • Landing Jakarta: Kepulangan 9 WNI ke Indonesia dengan fasilitasi penuh dari Kemenlu RI.

Harapan untuk Masa Depan Gaza

Meski harus mengalami trauma yang mendalam, semangat para relawan ini dikabarkan tidak surut. Kepulangan mereka diharapkan menjadi pemacu bagi masyarakat dunia untuk terus memberikan perhatian pada krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza. Luka fisik mungkin akan sembuh, namun ingatan akan perjuangan di penjara Israel akan terus menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah kemanusiaan.

Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap konflik Palestina, ada individu-individu berani yang rela mempertaruhkan nyawa demi membantu sesama. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari organisasi non-pemerintah hingga pemerintah negara berdaulat, menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan tetap berdiri tegak meski dihantam oleh berbagai tekanan politik dan militer.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *