Kesaksian Pilu Relawan WNI Global Sumud Flotilla: Disiksa Tentara Israel dan Diperlakukan Tak Manusiawi demi Gaza

Budi Santoso | UpdateKilat
24 Mei 2026, 18:58 WIB
Kesaksian Pilu Relawan WNI Global Sumud Flotilla: Disiksa Tentara Israel dan Diperlakukan Tak Manusiawi demi Gaza

UpdateKilat — Isak tangis pecah di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta saat sembilan pahlawan kemanusiaan asal Indonesia akhirnya menginjakkan kaki kembali di tanah air. Namun, kepulangan mereka kali ini tidak disambut dengan tawa kemenangan, melainkan duka mendalam dan trauma hebat. Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi internasional Global Sumud Flotilla membawa luka fisik dan batin setelah mengalami penyiksaan brutal oleh pasukan pendudukan Israel (IOF) di tengah laut saat hendak mengirimkan bantuan ke Gaza.

Misi Suci di Balik Tragedi di Tengah Laut

Perjalanan ini awalnya dimulai dengan niat yang sangat mulia. Para relawan ini berangkat membawa harapan bagi jutaan warga Palestina yang terisolasi. Kapal mereka mengangkut ribuan ton bahan makanan, obat-obatan darurat, serta kebutuhan pokok lainnya yang sangat dibutuhkan di wilayah kantong tersebut. Sebagai bagian dari kemanusiaan universal, mereka percaya bahwa bantuan medis dan pangan harus menembus blokade demi menyelamatkan nyawa.

Read Also

Misi Penyelamatan Pangan: Satgas PRR Pacu Rehabilitasi 42 Ribu Hektare Sawah Terdampak Bencana di Sumatra

Misi Penyelamatan Pangan: Satgas PRR Pacu Rehabilitasi 42 Ribu Hektare Sawah Terdampak Bencana di Sumatra

Namun, harapan itu dipatahkan secara paksa. Saat masih berada di perairan internasional, armada yang mereka tumpangi dicegat secara brutal oleh militer Israel. Alih-alih mendapatkan jalur aman, para aktivis ini justru menghadapi moncong senjata dan kekerasan fisik yang tidak terbayangkan sebelumnya. Mereka ditangkap, diseret, dan dipisahkan dari bantuan yang seharusnya sampai ke tangan mereka yang kelaparan di Gaza.

Empat Hari di Neraka: Kesaksian Herman Budiyanto

Herman Budiyanto, salah satu aktivis yang menjadi korban, tak mampu menahan air matanya saat menceritakan kembali momen-momen kelam selama penahanan. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan bahwa penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Israel bukanlah sekadar gertakan, melainkan sebuah tindakan keji yang sistematis dan sangat brutal.

Read Also

Aksi Heroik di SMAN 1 Cilacap: Ketika Mayor Teddy Memimpin ‘Konser’ Nasionalisme di Hadapan Presiden Prabowo

Aksi Heroik di SMAN 1 Cilacap: Ketika Mayor Teddy Memimpin ‘Konser’ Nasionalisme di Hadapan Presiden Prabowo

“Kami ingin dunia tahu bahwa penyiksaan yang dilakukan oleh IOF itu nyata. Sangat keji, sangat brutal. Prosesnya dimulai dari penculikan di tengah laut hingga penyiksaan yang berlangsung selama sekitar empat hari berturut-turut,” tutur Herman di hadapan awak media yang menyambut kedatangannya di Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (24/5/2026).

Selama empat hari tersebut, para relawan kehilangan hak-hak dasar mereka sebagai manusia. Mereka tidak hanya diinterogasi, tetapi juga disiksa secara fisik untuk mematahkan semangat mereka. Herman menceritakan bagaimana setiap jam terasa seperti keabadian di bawah tekanan militer yang tidak mengenal belas kasihan.

Luka Fisik yang Mengerikan: Patah Tulang hingga Penembakan

Dampak dari kekerasan tersebut terlihat jelas pada kondisi fisik para relawan. Herman melaporkan bahwa banyak rekannya dari berbagai negara mengalami luka berat yang permanen. Kekerasan tersebut tidak memandang kewarganegaraan; siapa pun yang berada di kapal tersebut menjadi sasaran amuk militer.

Read Also

Update Kilat: Mengenang Dedikasi Terakhir Haerul Saleh, Transformasi Ikonik Rasuna Said, dan Peluang Lelang Kejari Bogor

Update Kilat: Mengenang Dedikasi Terakhir Haerul Saleh, Transformasi Ikonik Rasuna Said, dan Peluang Lelang Kejari Bogor
  • Patah tulang rusuk akibat hantaman benda tumpul dan tendangan sepatu laras panjang.
  • Patah tangan dan kaki karena dipaksa dalam posisi yang menyakitkan selama berjam-jam.
  • Patah hidung dan luka memar di sekujur wajah akibat pukulan langsung.
  • Bahkan, Herman memberikan kesaksian bahwa terdapat relawan yang terkena tembakan senjata api saat proses penangkapan berlangsung.

Kondisi ini menunjukkan betapa represifnya tindakan yang diambil terhadap misi bantuan sipil yang sama sekali tidak bersenjata. Relawan Indonesia yang dikenal memiliki semangat juang tinggi pun harus menghadapi kenyataan pahit bahwa solidaritas mereka dibalas dengan timah panas dan kekerasan fisik.

Degradasi Martabat: “Kami Diperlakukan Seperti Hewan”

Lebih dari sekadar luka fisik, yang paling membekas adalah penghinaan terhadap martabat mereka sebagai manusia. Herman menggambarkan suasana penahanan tersebut dengan satu kalimat yang memilukan: “Kami diperlakukan seperti hewan.”

Para tahanan dipaksa untuk bergerak dengan cara merangkak menggunakan lutut mereka di lantai yang kasar. Mereka dilarang keras menatap wajah para penjaga; pandangan harus selalu tertunduk ke bawah sebagai bentuk ketundukan paksa. Tidak ada tempat tidur yang layak, tidak ada selimut untuk menghalau dinginnya malam, mereka dibiarkan tidur di lantai beton yang dingin tanpa alas sedikit pun.

Tak hanya itu, Herman juga mengungkap adanya dugaan pelecehan seksual yang dialami oleh para relawan, baik laki-laki maupun perempuan. Tindakan ini disinyalir dilakukan untuk meruntuhkan mental para pejuang kemanusiaan tersebut agar tidak lagi berani melakukan aksi serupa di masa depan.

Kerendahan Hati di Tengah Penderitaan

Meski baru saja keluar dari cengkeraman maut, Herman Budiyanto menunjukkan kualitas spiritual yang luar biasa. Sambil terisak, ia mengatakan bahwa penderitaan yang ia alami selama empat hari itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan rakyat Palestina yang sudah berlangsung selama puluhan tahun di bawah blokade Gaza.

“Saudara-saudara kita di Palestina jauh lebih menderita dibandingkan dengan kami. Kami ini hanya debu-debu yang beterbangan. Kami tidak patut berbangga atau merasa menjadi orang penting,” ujarnya rendah hati. Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya rasa empati para relawan Indonesia terhadap perjuangan bangsa Palestina.

Melihat kondisi psikis Herman yang terguncang, Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari, yang hadir menjemput, tampak merangkul dan memberikan kekuatan kepada Herman. Sang Dubes menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas pengorbanan yang telah diberikan oleh rakyat Indonesia demi bangsanya.

Harapan untuk Keadilan dan Pembebasan

Di akhir pernyataannya, Herman menyampaikan pesan kuat kepada dunia internasional. Ia berharap agar segala bentuk penyiksaan dan penindasan terhadap rakyat Palestina segera dihentikan. Fokusnya bukan hanya pada dirinya, melainkan pada ribuan warga Palestina lainnya yang hingga saat ini masih mendekam di dalam penjara-penjara Israel tanpa proses hukum yang jelas.

Kepulangan sembilan WNI ditahan Israel ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa jalur kemanusiaan ke Gaza adalah jalan yang penuh duri dan risiko nyawa. Namun, bagi para relawan ini, luka-luka di tubuh mereka adalah saksi bisu bahwa cinta terhadap kemanusiaan tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh kekerasan militer manapun.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri juga terus melakukan pemantauan dan pendampingan terhadap kondisi kesehatan fisik serta psikis kesembilan relawan tersebut. Kasus ini diharapkan menjadi perhatian dunia internasional untuk lebih serius dalam melindungi misi-misi kemanusiaan yang beroperasi di wilayah konflik sesuai dengan hukum internasional yang berlaku.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *