Mbah Marsiyah: Manifestasi Kesabaran Jemaah Haji Tertua Indonesia yang Menabung Rp 2.000 dalam Kaleng Bekas
UpdateKilat — Sebuah pemandangan mengharukan tertangkap di lorong hotel jemaah haji Indonesia yang terletak di wilayah Ar-Rawdah, Makkah. Di tengah hiruk-pikuk kedatangan para tamu Allah, sebuah kursi roda bergerak perlahan, didorong dengan penuh kasih sayang oleh petugas dan keluarga. Di atasnya, duduk seorang perempuan sepuh dengan gurat wajah yang menyimpan sejuta cerita. Ia adalah Mbah Marsiyah, perempuan berusia 105 tahun yang secara resmi menyandang status sebagai jemaah haji tertua asal Indonesia untuk musim haji tahun ini.
Sepanjang perjalanan menuju lift hotel, wajah Mbah Marsiyah tak henti-hentinya memancarkan senyum kecil yang tulus. Tangannya yang sudah renta sesekali menggenggam erat sandaran kursi roda, sementara matanya yang jernih memperhatikan setiap sudut bangunan dengan penuh rasa syukur. Meski langkah kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya dengan sempurna, namun nyala semangat di dalam jiwanya terasa jauh lebih muda dibandingkan raga yang telah melewati satu abad tersebut.
Rahasia Berkah Melimpah: 6 Inspirasi Kultum Sedekah Sembunyi-sembunyi di Era Digital
Kekuatan Niat di Balik Tubuh yang Renta
Saat ditemui oleh tim Media Center Haji di Makkah pada Jumat, 22 Mei 2026, Mbah Marsiyah menunjukkan ketegaran yang luar biasa. Ketika ditanya mengenai kondisinya setelah menempuh perjalanan udara yang sangat panjang dari tanah air, ia menjawab dengan suara pelan namun penuh keyakinan. “Masih kuat,” tuturnya singkat. Jawaban sederhana ini seolah merangkum seluruh perjalanan hidupnya yang penuh dengan perjuangan demi bisa menapakkan kaki di tanah suci melalui program jemaah haji Indonesia.
Mbah Marsiyah berasal dari Desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kehadirannya di Makkah bukanlah sebuah kebetulan atau hasil dari kekayaan yang melimpah. Perjalanan ibadahnya ini adalah buah manis dari kesabaran yang ia pupuk selama puluhan tahun. Bagi banyak orang, mungkin sulit dipercaya bahwa biaya haji yang mencapai puluhan juta rupiah bisa dikumpulkan oleh seorang penjual penganan tradisional di sebuah desa kecil.
12 Strategi Jitu Mengelola Stamina Saat Ibadah Haji: Rahasia Tetap Bugar di Tengah Cuaca Ekstrem
Filosofi Kaleng Bekas dan Tabungan Rp 2.000
Kisah inspiratif ini bermula dari sebuah halaman rumah yang teduh di bawah pohon sawo. Di sanalah Mbah Marsiyah sehari-hari menjajakan jenang buatannya sendiri. Tanpa rasa malu atau lelah, ia melayani para tetangga yang ingin menikmati legitnya jenang karyanya. Keuntungan dari setiap porsi jenang yang terjual tidaklah besar, namun dari keuntungan yang amat kecil itulah ia mulai menyusun mimpi untuk pergi ke Baitullah.
Strategi menabung Mbah Marsiyah sangatlah bersahaja. Ia tidak menggunakan jasa perbankan atau investasi modern. Alih-alih, ia memanfaatkan kaleng bekas yang ia simpan di dalam lemari rumahnya. “Saya menabung sedikit-sedikit begitu, saya masukkan kaleng, lalu saya simpan,” kenangnya dengan nada bicara yang khas. Setiap kali ada uang sisa, baik itu Rp 2.000 atau Rp 5.000, ia langsung memasukkannya ke dalam kaleng tersebut.
Panduan Aman Ibadah Haji: Mengenal ‘Buddy System’ dan Strategi Transportasi di Kota Makkah
Hebatnya, proses menabung ini ia lakukan dalam kesunyian. Tak ada tetangga atau kerabat jauh yang tahu bahwa di balik kesederhanaannya, Mbah Marsiyah sedang mengumpulkan “tiket” menuju Makkah. “Saya begitu pun dengan tetangga-tetangga diam saja, tidak bilang menyisihkan uang buat pergi haji,” imbuhnya sambil tertawa kecil, menunjukkan sifat tawadhu yang mendalam.
Dukungan Keluarga dan Jalur Prioritas Lansia
Setelah bertahun-tahun lamanya, tabungan dalam kaleng tersebut akhirnya mencapai jumlah yang signifikan. Melihat kegigihan sang ibu, anak-anak Mbah Marsiyah pun tidak tinggal diam. Mereka bergotong-royong untuk menutupi kekurangan biaya yang dibutuhkan agar sang ibu bisa segera terdaftar sebagai calon jemaah. Berkat kebijakan pemerintah yang memberikan kuota khusus, Mbah Marsiyah akhirnya resmi terdaftar melalui jalur haji lansia pada tahun 2021.
Kehidupan sehari-hari Mbah Marsiyah memang dikenal sangat teratur dan jauh dari kemewahan. Rahasia umur panjangnya mungkin terletak pada pola makannya yang sangat sederhana dan alami. Ia lebih memilih mengonsumsi sayur bayam, tempe, dan telur. Ada satu pantangan yang selalu ia patuhi: daging ayam. “Kalau ayam saya tidak, soalnya bikin gatal,” ungkapnya polos. Kedisiplinan dalam menjaga asupan makanan inilah yang membuatnya tetap sehat meski di usia yang sudah sangat lanjut.
Pengalaman Perdana Menembus Langit
Perjalanan ibadah haji ini juga mencatatkan sejarah pribadi bagi Mbah Marsiyah sebagai pengalaman pertamanya bepergian jauh. Selama hidupnya, ia hampir tidak pernah keluar dari lingkungan kampung halamannya di Kediri. Maka tak heran jika momen naik pesawat terbang menjadi pengalaman yang sangat mendebarkan sekaligus berkesan baginya.
Awalnya, rasa cemas sempat menyelimuti benaknya saat membayangkan harus berada di dalam burung besi raksasa selama belasan jam. Namun, ketakutan itu sirna seketika saat pesawat mulai lepas landas. Dengan kepolosan seorang ibu desa, ia menggambarkan pengalaman terbangnya dengan kalimat yang mengundang senyum. “Lancar. Tidak ada apa-apa. Setirnya halus kok,” ucapnya, yang langsung disambut tawa hangat oleh orang-orang di sekitarnya. Satu-satunya keluhan yang ia rasakan hanyalah udara dingin dari AC pesawat yang membuatnya sulit memejamkan mata.
Ketangguhan Fisik di Tengah Keterbatasan
Meski semangatnya membara, Mbah Marsiyah tetaplah seorang manusia yang memiliki keterbatasan fisik. Beberapa tahun silam, ia sempat mengalami insiden medis yang cukup berat di rumahnya. Ia ditemukan pingsan di dalam kamar mandi yang terkunci, hingga keluarganya harus mendobrak pintu untuk menyelamatkannya. Putrinya, Maidah, menceritakan betapa kritisnya kondisi sang ibu saat itu.
Namun, mukjizat seolah menyertai Mbah Marsiyah. Ia berhasil pulih dan kembali beraktivitas meski kini harus lebih banyak dibantu. Di Makkah, ia menjadi bukti nyata bahwa kesehatan lansia dan kekuatan spiritual bisa berjalan beriringan. Ia tetap menikmati setiap momen di tanah suci, meskipun durasi berjalannya sudah sangat terbatas dan harus bergantian menggunakan kursi roda.
Puncak Kebahagiaan: Menatap Ka’bah
Bagi Mbah Marsiyah, kemewahan hotel di Ar-Rawdah atau fasilitas haji yang lengkap bukanlah tujuan utamanya. Puncak dari segala perjuangannya selama puluhan tahun, dari setiap butir jenang yang terjual dan setiap lembar uang dua ribu rupiah yang masuk ke kaleng, adalah momen ketika matanya bisa memandang langsung keindahan Ka’bah.
“Alhamdulillah lihat Kakbah,” ucapnya pelan dengan mata yang berkaca-kaca. Kalimat itu bukan sekadar ungkapan syukur, melainkan sebuah pernyataan kemenangan atas kesabaran yang luar biasa. Mbah Marsiyah telah membuktikan bahwa tidak ada niat baik yang mustahil bagi Tuhan, selama manusia mau berusaha dengan cara yang paling jujur dan konsisten.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, terutama para calon jemaah muda, bahwa keberangkatan haji bukanlah soal seberapa besar penghasilan kita, melainkan seberapa besar tekad dan kisah inspiratif yang ingin kita ukir dalam perjalanan menuju-Nya. Mbah Marsiyah adalah teladan nyata tentang keikhlasan yang melampaui angka-angka, sebuah narasi tentang cinta seorang hamba yang tak lekang oleh usia.