Di Balik Video Viral: Perjuangan Savira Rizky, Ibu Muda yang Rela Buang ASI Demi Haji dan Bakti pada Ibu

Ustadzah Sarah | UpdateKilat
22 Mei 2026, 16:56 WIB
Di Balik Video Viral: Perjuangan Savira Rizky, Ibu Muda yang Rela Buang ASI Demi Haji dan Bakti pada Ibu

UpdateKilat — Di tengah riuh rendah jutaan jemaah yang memadati tanah suci Makkah, terselip sebuah kisah yang mengiris hati sekaligus menginspirasi tentang pengorbanan seorang ibu muda bernama Savira Rizky. Di sela-sela padatnya agenda ibadah haji, Savira tak pernah absen meluangkan waktu untuk memompa Air Susu Ibu (ASI). Namun, ada gurat kesedihan mendalam setiap kali ia melihat satu per satu kantong plastik berisi cairan berharga itu terisi penuh. Bukan untuk diberikan kepada buah hatinya yang tengah menunggu di tanah air, melainkan terpaksa harus ia relakan untuk dibuang.

Getir di Balik Tetesan Air Susu yang Terbuang

Momen mengharukan saat Savira membuang ASI hasil pompanya sempat terekam dan menjadi viral di berbagai platform media sosial. Dalam potongan video tersebut, publik melihat ketegaran seorang wanita yang berjuang menyeimbangkan kewajiban agama dengan naluri keibuannya. Namun, apa yang tidak terlihat di kamera adalah air mata yang jatuh sebelum dan sesudah proses tersebut dilakukan. Savira mengaku, pada hari-hari awal di Makkah, hatinya hancur setiap kali harus membuang ASI yang seharusnya menjadi hak bayinya.

Read Also

Transformasi Digital Dakwah: Deretan Aplikasi Khutbah Jumat yang Mudahkan Tugas Khatib Modern

Transformasi Digital Dakwah: Deretan Aplikasi Khutbah Jumat yang Mudahkan Tugas Khatib Modern

“Biasanya anak saya yang meminumnya, sekarang terpaksa harus dibuang. Awalnya, setiap kali saya membuang ASI, saya pasti menangis,” kenang Savira saat berbincang dengan tim Media Center Haji di Makkah. Baginya, setiap tetes ASI adalah simbol kerinduan sekaligus pengingat akan jarak ribuan kilometer yang memisahkannya dengan sang buah hati yang masih berusia 10 bulan.

Misi Ganda: Antara Panggilan Allah dan Bakti pada Ibu

Kehadiran Savira di tanah suci bukan sekadar untuk menuntaskan rukun Islam kelima. Ada misi mulia lain yang ia emban: mendampingi ibunda tercinta yang baru saja melewati badai besar dalam hidupnya. Ibunda Savira adalah seorang penyintas kanker payudara stadium 2B. Perjuangan sang ibu melawan penyakit mematikan itu bukanlah perkara mudah. Vonis kanker itu jatuh tepat setelah Savira melahirkan anak pertamanya, sebuah masa yang seharusnya penuh dengan suka cita namun justru berubah menjadi penuh ujian.

Read Also

Mengapa Puncak Ibadah Haji Dilakukan pada Bulan Dzulhijjah? Menelusuri 6 Alasan Filosofis dan Syariatnya

Mengapa Puncak Ibadah Haji Dilakukan pada Bulan Dzulhijjah? Menelusuri 6 Alasan Filosofis dan Syariatnya

Savira menceritakan bagaimana ia menyaksikan langsung ibunya melalui enam kali siklus kemoterapi yang melelahkan, operasi pengangkatan payudara kiri, hingga 25 sesi radiasi yang menguras energi. Kondisi fisik sang ibu yang melemah menjadi alasan kuat mengapa Savira bersikeras untuk ikut mendampingi. Bahkan hingga saat ini, lima bulan pasca-operasi, ibundanya masih mengalami keterbatasan fisik, seperti kesulitan mengangkat tangan dan memerlukan bantuan kursi lipat untuk bisa bangkit dari posisi sujud saat shalat.

Bayang-Bayang Trauma dan Ketakutan di Tanah Suci

Ada ketakutan tersendiri yang menghantui pikiran Savira selama berada di Arab Saudi. Ingatannya kerap kembali pada kejadian pilu tahun 2004, di mana sang nenek wafat di tanah suci setelah berjuang melawan kondisi kesehatan yang serupa. Kenangan pahit itu membuatnya dilingkupi rasa was-was akan keselamatan ibunya. “Jujur, saya takut. Saya takut jika mama dipanggil Allah di sini,” ucapnya dengan suara lirih. Perasaan trauma inilah yang membuatnya tak ingin lepas sejengkal pun dari sisi sang ibu selama proses manasik haji berlangsung.

Read Also

Biaya Umrah Mandiri vs Travel 2026: Mana yang Lebih Hemat dan Strategis untuk Solo Traveler?

Biaya Umrah Mandiri vs Travel 2026: Mana yang Lebih Hemat dan Strategis untuk Solo Traveler?

Kekhawatiran itu sempat memuncak saat melihat antusiasme ibundanya yang seolah mendapatkan energi tambahan setelah menginjakkan kaki di tanah haram. Meski fisik belum pulih total, sang ibu beberapa kali menyatakan keinginannya untuk melaksanakan umrah sunah tambahan. Keinginan kuat sang ibu inilah yang justru membuat Savira semakin protektif, mengingat kondisi cuaca dan kepadatan jemaah yang sangat menantang fisik.

Persiapan Logistik ASI yang Luar Biasa

Keputusan untuk berangkat haji meninggalkan bayi yang masih menyusu tentu tidak diambil secara impulsif. Savira telah melakukan persiapan matang selama enam bulan sebelum keberangkatan. Untuk memastikan anaknya tetap mendapatkan nutrisi terbaik, ia meningkatkan frekuensi pompa ASI hingga delapan kali sehari demi memenuhi stok di dalam freezer. Targetnya adalah menyediakan pasokan yang cukup untuk ditinggal selama 32 hari.

Tidak hanya urusan stok ASI, Savira juga mendetailkan urusan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Ia menimbang sendiri setiap bahan makanan, memisahkannya ke dalam porsi harian, dan memberikan catatan instruksi memasak bagi suaminya di rumah. “Semua sudah siap di freezer, ayahnya tinggal mengambil dan memasak sesuai label yang saya buat,” jelasnya sambil tersenyum tipis, menunjukkan sisi perfeksionisnya sebagai seorang ibu.

Teknologi sebagai Jembatan Rindu: Pumping di Sela Tawaf

Hidup di era digital memberikan sedikit kemudahan bagi Savira untuk tetap menjalankan perannya sebagai ibu meskipun dari jarak jauh. Ia membawa dua set alat pompa ASI ke tanah suci, termasuk pompa model handsfree yang memungkinkannya tetap memompa ASI saat berada di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi tanpa mengganggu ibadah lainnya. “Sekarang teknologi sangat membantu, bahkan sambil tawaf pun proses pumping tetap bisa berjalan,” katanya.

Selain urusan nutrisi, teknologi juga menjadi penawar rindu. Setiap hari setelah waktu Ashar, ia rutin melakukan video call untuk membacakan doa bagi anaknya sebelum tidur. Namun, demi menjaga kondisi emosional sang anak, ia kini membatasi frekuensi panggilan tersebut. Sebagai gantinya, ia mengandalkan kamera CCTV dua arah yang dipasang di sudut-sudut rumahnya. Tak jarang ia merasa panik hanya karena anaknya tidak tertangkap kamera karena tertutup bantal atau sedang berpindah tempat bermain.

Hikmah di Balik Air Mata dan Kepasrahan

Perjalanan haji Savira adalah perjalanan tentang penerimaan. Ia harus belajar berdamai dengan kenyataan bahwa produksi ASI-nya sempat menurun akibat kelelahan fisik, kurang tidur, dan pengaruh obat hormon penunda haid. Ia juga sempat merasa sangat bersalah ketika harus mulai mengenalkan susu formula kepada anaknya demi menjaga cadangan pangan sang bayi selama ia di Makkah. Namun, nasihat dari dokter anak dan dukungan keluarga membantunya untuk lebih rileks dan yakin bahwa Allah akan menjaga segalanya.

Di sisi lain, melihat kebahagiaan ibundanya saat memasuki Raudhah di Madinah menjadi obat mujarab bagi segala rasa lelah Savira. Air mata syukur sang ibu yang pecah di tempat mustajab tersebut dirasakannya sebagai hadiah terindah dari Tuhan setelah serangkaian ujian kanker yang panjang. Kini, fokus Savira adalah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dengan sempurna sambil terus memanjatkan doa untuk kesembuhan total ibundanya.

Melalui kisahnya, Savira ingin berpesan kepada para ibu di luar sana yang mungkin menghadapi dilema serupa. “Meninggalkan anak untuk beribadah memang sangat berat. Tapi percayalah, Allah adalah sebaik-baik penjaga. Setiap tetes air susu yang terbuang di sini, insya Allah akan diganti dengan berkah yang jauh lebih besar bagi anak dan keluarga kita,” pungkasnya. Kisah Savira Rizky menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya soal fisik, melainkan ujian keikhlasan dan pengabdian yang melampaui batas-batas kemanusiaan biasa.

Ustadzah Sarah

Ustadzah Sarah

Penulis konten religi dan lulusan studi Islam yang berdedikasi menyebarkan konten positif di Kilat Islami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *