Aksi Senyap Lo Kheng Hong: Strategi Borong Saham DILD dan Jual SIMP di Tengah Gejolak IHSG
UpdateKilat — Di tengah dinamika pasar modal yang kian fluktuatif, sosok investor kawakan Indonesia, Lo Kheng Hong, kembali menjadi sorotan tajam. Pria yang kerap dijuluki sebagai “Warren Buffett Indonesia” ini baru saja memperlihatkan manuver terbarunya dengan menambah porsi kepemilikan saham di PT Intiland Development Tbk (DILD). Langkah ini seolah memberikan sinyal optimisme di tengah awan mendung yang menyelimuti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini.
Strategi Value Investing: Mengapa DILD?
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI), Lo Kheng Hong diketahui telah memborong sebanyak 15.179.600 lembar saham DILD. Transaksi yang dilakukan pada 4 Mei 2026 tersebut dieksekusi pada harga Rp 129 per saham. Dengan demikian, sang investor legendaris ini menggelontorkan dana segar sekitar Rp 1,95 miliar hanya dalam satu kali aksi beli. Tujuan dari transaksi ini sangat jelas dan konsisten dengan gaya investasinya selama ini, yakni untuk investasi jangka panjang dengan status kepemilikan langsung.
Analisis Mendalam: Di Balik Membaiknya Sentimen Global dan Bayang-bayang Ketidakpastian Pasar Keuangan
Pasca aksi borong tersebut, komposisi kepemilikan Lo Kheng Hong di emiten properti ini merangkak naik menjadi 7,08%, atau setara dengan 733,68 juta lembar saham. Sebelumnya, ia diketahui menguasai 718,50 juta lembar saham atau sekitar 6,93%. Penambahan posisi ini menarik perhatian karena dilakukan saat sektor properti masih berjuang menghadapi tantangan suku bunga dan daya beli masyarakat.
Analisis Harga Saham DILD di Pasar Sekunder
Melihat performa di lantai bursa, pada penutupan perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, harga saham DILD justru ditutup melemah 1,6% ke level Rp 123 per saham. Meskipun dibuka stagnan di posisi Rp 125, saham ini sempat bergerak di rentang Rp 123 hingga Rp 126. Dengan total nilai transaksi mencapai Rp 2,6 miliar dan volume perdagangan sebesar 207.930 saham, terlihat bahwa minat pasar terhadap DILD masih cukup stabil meski berada di zona merah.
IHSG Berpotensi Tembus 7.800! Intip Strategi dan Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini 13 April 2026
Keputusan Lo Kheng Hong untuk tetap menambah muatan saat harga saham sedang terkoreksi sebenarnya bukanlah hal baru. Ini adalah inti dari filosofi value investing yang ia anut: membeli perusahaan bagus di harga yang murah. Bagi para pelaku investasi, pergerakan “The Oracle of Indonesia” ini sering kali dijadikan acuan untuk melihat potensi nilai intrinsik sebuah emiten yang mungkin belum disadari oleh pasar luas.
Realisasi Keuntungan di Saham SIMP
Berbanding terbalik dengan aksinya di DILD, Lo Kheng Hong justru terpantau melakukan aksi jual atau profit taking pada saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). Pada 14 April 2026, ia melepas total 8.189.500 lembar saham SIMP dalam dua tahap transaksi. Tahap pertama, ia menjual 1,37 juta saham di harga Rp 925, dan tahap kedua sebanyak 6,81 juta saham di harga Rp 920. Total nilai divestasi ini mencapai Rp 7,54 miliar.
Arah Kebijakan Suku Bunga BI: Mengupas Dampak Terhadap Arus Investasi dan Stabilitas Ekonomi Nasional
Langkah ini dikonfirmasi sebagai upaya untuk merealisasikan keuntungan (capital gain). Setelah transaksi ini, kepemilikan Lo Kheng Hong di SIMP menyusut menjadi 4,97% atau sekitar 771,01 juta lembar saham, yang secara otomatis membuatnya tidak lagi diwajibkan melaporkan kepemilikannya secara mendetail karena berada di bawah ambang batas 5%.
Kinerja Cemerlang SIMP di Tahun Buku 2025
Meskipun Lo Kheng Hong melepas sebagian sahamnya, fundamental PT Salim Ivomas Pratama Tbk sebenarnya sedang dalam kondisi yang sangat prima. Sepanjang tahun 2025, emiten agribisnis ini mencatatkan penjualan sebesar Rp 21,06 triliun, melonjak 32% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh meroketnya harga jual rata-rata produk sawit serta efisiensi pada lini minyak dan lemak nabati.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan tumbuh fantastis sebesar 33% menjadi Rp 2,07 triliun. Direktur Utama SIMP, Paulus Moleonoto, menyatakan bahwa meski menghadapi tantangan cuaca dan volatilitas harga komoditas global, perusahaan tetap mampu menjaga produktivitas. Yang lebih impresif adalah perbaikan rasio utang atau net gearing perusahaan yang turun menjadi 0,04x, menandakan struktur permodalan yang semakin sehat dan kuat.
Kondisi Makro Ekonomi dan Tekanan IHSG
Langkah-langkah strategis Lo Kheng Hong ini terjadi di tengah kondisi pasar yang sedang tidak baik-baik saja. IHSG sendiri sempat terjun bebas 1,98% ke level 6.723,32. Tekanan jual masif melanda hampir seluruh sektor, terutama sektor material dasar (basic) yang terkoreksi hingga 4,43%. Pelemahan ini juga diperparah dengan posisi nilai tukar Rupiah yang berada di kisaran Rp 17.470 per Dolar AS, sebuah angka yang cukup menekan bagi emiten dengan eksposur utang valas tinggi.
Dari 11 sektor yang ada di bursa, hanya sektor transportasi dan industri yang berhasil finis di zona hijau. Sektor keuangan dan properti, tempat DILD bernaung, masing-masing mengalami koreksi tipis. Namun, bagi investor berpengalaman, koreksi IHSG sering kali dipandang sebagai waktu yang tepat untuk memilah saham-saham “diskon” yang memiliki fundamental solid.
Pelajaran bagi Investor Ritel
Fenomena beli DILD dan jual SIMP oleh Lo Kheng Hong ini memberikan pelajaran berharga mengenai manajemen portofolio. Tidak selamanya menyimpan saham selamanya adalah pilihan terbaik; ada kalanya profit harus direalisasikan untuk menjaga likuiditas atau dialihkan ke aset lain yang dirasa memiliki potensi pertumbuhan (upside) lebih besar. DILD, dengan aset-aset strategisnya di Jakarta dan Surabaya, tampaknya menjadi pilihan baru bagi LKH untuk memarkirkan dananya di sektor real estate.
Bagi Anda yang mengikuti jejak sang maestro, penting untuk selalu melakukan analisis mendalam secara mandiri. Meskipun Lo Kheng Hong memiliki rekam jejak yang luar biasa, strategi setiap individu harus disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing. Pasar modal adalah tempat di mana kesabaran diuji, dan seperti yang sering dikatakan LKH, “Harta karun terbesar di dunia ada di pasar modal, bukan di dasar laut.”
Kesimpulan
Manuver terbaru Lo Kheng Hong ini menegaskan kembali bahwa dalam kondisi pasar yang merah sekalipun, peluang selalu ada bagi mereka yang jeli melihat nilai. Penambahan porsi di DILD menunjukkan keyakinan pada sektor properti, sementara penjualan di SIMP membuktikan bahwa disiplin dalam mengambil keuntungan adalah bagian dari strategi investasi yang sehat. Di bawah pantauan UpdateKilat, pergerakan para market mover seperti ini akan terus menjadi indikator menarik bagi arah pasar modal Indonesia ke depan.