Kisah Haru Mbah Mardijiyono: Jemaah Haji 103 Tahun yang Menjemput Rindu di Raudhah dan Rahasia Sehat di Usia Senja
UpdateKilat — Di tengah teriknya matahari yang memayungi Kota Madinah, sebuah kisah inspiratif hadir dari balik dinding hotel jemaah Indonesia. Adalah Mbah Mardijiyono, seorang pria bersahaja asal Yogyakarta yang kini menjadi sorotan karena keteguhan semangatnya. Di usianya yang telah menyentuh angka 103 tahun, ia membuktikan bahwa panggilan iman tidak mengenal batas fisik maupun usia. Senyumnya yang tulus terus merekah, menyapa siapa saja yang berkunjung untuk melihat sosok yang telah melewati satu abad kehidupan ini.
Kehangatan dari Yogyakarta di Jantung Madinah
Duduk di tepi tempat tidur hotelnya yang tertata rapi, Mbah Mardijiyono tampak begitu tenang. Meskipun kerutan di wajahnya menceritakan ribuan pengalaman hidup, binar matanya tetap menunjukkan semangat seorang pemuda yang sedang jatuh cinta pada ibadah haji. Menggunakan kaus terbaik yang ia bawa dari tanah air, ia tampak menyambut hangat kedatangan Khalilurrahman, Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, yang datang khusus untuk memastikan kondisinya.
Inovasi Kartu Kendali: Strategi Ampuh Lindungi Jemaah Haji dari Jeratan Jasa Kursi Roda Ilegal di Masjidil Haram
Pertemuan tersebut berlangsung sangat emosional. Khalilurrahman tak canggung untuk langsung memeluk Mbah Mardijiyono, sebuah pelukan yang menggambarkan rasa hormat seorang anak kepada ayahnya. Suasana kamar yang tadinya tenang seketika berubah menjadi penuh kekeluargaan saat percakapan mengalir menggunakan bahasa Jawa halus (Kromo Inggil), sebuah sentuhan budaya yang membawa suasana rumah ke tanah suci.
“Dhahar nopo mbah? (Makan apa mbah?)” tanya Khalilurrahman dengan nada lembut yang penuh perhatian. Dengan tawa kecil yang khas, Mbah Mardijiyono menjawab pendek namun penuh kepuasan, “Bubur.” Jawaban sederhana ini mengundang senyum dari semua orang di ruangan itu, menandakan bahwa meski di negeri orang, selera dan kebahagiaannya tetap terjaga lewat hal-hal kecil.
Menyelami Kedalaman Makna: Kumpulan Quotes Ustadzah Halimah Alaydrus yang Menyentuh Hati dan Menenangkan Jiwa
Rahasia Panjang Umur: Bersyukur Tanpa Syarat
Menjadi salah satu jemaah lansia tertua di musim haji kali ini tentu mengundang rasa penasaran banyak pihak mengenai rahasia umur panjangnya. Namun, bagi Mbah Mardijiyono, tidak ada resep medis yang rumit atau diet ketat yang ia jalani. Baginya, kehidupan adalah titipan yang sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta.
“Umur niki sing maringi Gusti Allah, kulo bersyukur mawon kaleh nikmate Gusti Allah (Umur ini adalah pemberian Allah, saya hanya bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya),” tuturnya dengan suara yang mulai lirih namun tetap tegas secara makna. Prinsip hidup untuk selalu bersyukur dan menerima setiap ketetapan Tuhan dianggapnya sebagai obat paling mujarab yang membuatnya tetap bertahan hingga usia lebih dari seratus tahun.
Navigasi Ibadah: Memahami Titik Rawan Tersesat di Masjidil Haram bagi Jemaah Haji Indonesia
Meski pendengarannya sudah tidak sepeka dulu, bantuan dari dr. Dini Desi, dokter pendamping setia dari Yogyakarta, memastikan komunikasi tetap berjalan lancar. Setiap kata dibisikkan dengan penuh kesabaran ke telinga kirinya, memastikan sang kakek tidak kehilangan momen interaksi dengan dunia sekitarnya.
Getaran Rindu di Raudhah dan Makam Rasulullah
Puncak dari perjalanan spiritual Mbah Mardijiyono di Madinah adalah saat ia mendapatkan kesempatan untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW dan melaksanakan salat di Raudhah. Baginya, berada di taman surga tersebut adalah impian yang telah ia pupuk selama puluhan tahun. Mata tuanya tampak berkaca-kaca saat menceritakan momen sakral tersebut.
“Kulo remen, seneng saget sowan ten Kanjeng Nabi Muhammad (Saya sangat senang, bahagia bisa berziarah ke makam Nabi Muhammad),” ungkapnya. Pengalaman berada di dekat makam Rasulullah di Masjid Nabawi dirasakannya sebagai anugerah terbesar dalam hidupnya. Di tempat yang mustajab itu, ia tidak meminta kekayaan atau hal duniawi lainnya. Ia justru memanjatkan doa untuk seluruh jemaah dan petugas haji Indonesia agar senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan.
Napasnya sempat terasa sedikit berat saat ia terlalu bersemangat bercerita, namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus berbagi kebahagiaan. Ia berharap setiap jemaah yang berangkat ke Tanah Suci dapat pulang dengan predikat haji yang mabrur dan membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.
Bangkit dari Perawatan: Ketangguhan yang Mengagumkan
Perjalanan Mbah Mardijiyono tidaklah selalu mulus. Faktor usia dan perbedaan iklim yang ekstrem sempat membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit di Madinah. Selama tiga hari, ia menjalani perawatan intensif untuk mengembalikan stamina tubuhnya yang sempat menurun. Banyak yang khawatir apakah ia mampu melanjutkan rangkaian ibadah yang masih panjang.
Namun, sebuah keajaiban muncul dari semangatnya yang luar biasa. Tim medis menyatakan bahwa kondisi kesehatan haji Mbah Mardijiyono pulih dengan sangat cepat. Keinginannya yang kuat untuk melihat Ka’bah seolah menjadi energi tambahan yang mempercepat proses pemulihannya. Kini, ia dinyatakan fit dan siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Makkah Al-Mukarramah.
Ketangguhan fisik Mbah Mardijiyono menjadi bukti nyata bahwa kesiapan mental dan spiritual memiliki peran besar dalam menghadapi tantangan fisik. Di usia 103 tahun, ia tetap tegak berdiri (dengan bantuan kursi roda jika diperlukan) untuk menuntaskan rukun Islam kelima ini.
Persiapan Menuju Baitullah dan Miqat di Bir Ali
Kini, persiapan matang tengah dilakukan untuk memberangkatkan Mbah Mardijiyono beserta rombongannya menuju kota Makkah. Sesuai dengan prosedur, mereka akan singgah terlebih dahulu di Masjid Bir Ali untuk mengambil miqat dan melafalkan niat umrah wajib. Momen ini merupakan babak baru dalam perjalanan panjangnya di Saudi Arabia.
Petugas haji terus memberikan perhatian ekstra, mengingat Mbah Mardijiyono adalah bagian dari prioritas program “Haji Ramah Lansia”. Segala fasilitas pendukung disiapkan untuk memastikan perjalanan dari Kota Madinah ke Makkah yang memakan waktu sekitar 5-6 jam melalui jalur darat dapat dilalui dengan nyaman tanpa menguras energinya secara berlebihan.
Mbah Mardijiyono sendiri menyatakan bahwa ia sudah merasa sangat sehat dan tidak sabar untuk segera sampai di depan Ka’bah. Baginya, setiap jengkal tanah di haramain adalah berkah yang harus disyukuri dengan zikir dan doa yang tak terputus. Kisahnya kini menjadi inspirasi bagi jutaan jemaah lainnya, bahwa tidak ada kata terlambat untuk memenuhi panggilan Allah selama nyawa masih dikandung badan.
Harapan dan Doa untuk Indonesia
Di akhir perjumpaan, Mbah Mardijiyono kembali menegaskan harapannya agar seluruh prosesi haji tahun ini berjalan lancar. Ia sangat mengapresiasi bantuan para petugas yang dengan sabar membimbingnya, mulai dari urusan kesehatan hingga ibadah harian. Semangat kekeluargaan yang dirasakannya selama di Madinah membuatnya merasa tidak sendirian meski jauh dari keluarga di Yogyakarta.
Kisah Mbah Mardijiyono adalah pengingat bagi kita semua tentang makna kesabaran dan keikhlasan. Di usianya yang sudah senja, ia tidak mengeluh tentang sakit atau lelah, melainkan terus memuji kebesaran Tuhan. Perjalanannya menuju Baitullah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan cinta seorang hamba kepada Sang Khalik yang melampaui logika usia manusia.