Kisah Murtini di Masjidil Haram: Prajurit TNI yang Menjadi Pelita dan Penyambung Lidah Jemaah Haji Indonesia
UpdateKilat — Di bawah bayang-bayang menara Masjidil Haram yang megah, di mana jutaan langkah manusia beradu dalam harmoni spiritual yang luar biasa, terselip kisah-kisah dedikasi yang seringkali luput dari sorotan kamera utama. Di antara lautan putih kain ihram dan deru doa yang tak putus-putusnya, sosok Murtini berdiri tegap namun penuh kelembutan. Ia bukan sekadar petugas; ia adalah penunjuk jalan, penguat hati, dan bagi sebagian jemaah, ia adalah suara yang akrab di tengah asingnya tanah perantauan.
Garda Terdepan di Jantung Kota Makkah
Langkah kaki yang bersahutan di pelataran Masjidil Haram menciptakan simfoni kesibukan yang tak pernah tidur. Ribuan jemaah haji Indonesia bergerak dengan ritme yang beragam; ada yang terburu-buru mengejar waktu tawaf, namun tak sedikit pula yang tampak kebingungan mencari arah kembali ke pemondokan. Di sinilah Murtini, anggota Petugas Perlindungan Jemaah Seksi Khusus (Seksus) Masjidil Haram Daerah Kerja (Daker) Makkah, menjalankan mandat sucinya.
Etika Sebelum Logika: Mengapa Adab Harus Berada di Atas Ilmu dalam Kehidupan Modern
Murtini tidak hanya berdiri diam. Ia bergerak lincah dari satu titik koordinat ke titik lainnya, berhenti sejenak untuk menjawab rentetan pertanyaan, lalu kembali melangkah menyisir setiap sudut pelataran. Tugasnya jauh dari kata sederhana. Dalam sehari, ia bisa menemui puluhan jemaah yang kehilangan alas kaki, terpisah dari rombongan besar mereka, hingga lansia yang tiba-tiba kehilangan tenaga tepat setelah menyelesaikan prosesi sa’i di bukit Shafa dan Marwah.
Dedikasi Tanpa Jeda di Sektor Khusus
Bekerja di Sektor Khusus Masjidil Haram berarti bersiap untuk situasi yang tak terduga selama 24 jam penuh. Pelayanan haji di area ini menuntut kesigapan fisik dan mental yang prima. Bayangkan, ketika seorang jemaah melaporkan kehilangan tas berisi dokumen penting, Murtini dan timnya harus segera bergerak melakukan koordinasi, menyisir area, hingga berkomunikasi dengan pusat barang hilang yang berlokasi di sekitar area vital seperti WC 9.
Solusi Lupa Niat Puasa Sunnah: Bolehkah Berniat di Pagi Hari? Simak Panduan Lengkap dan Ketentuan Fiqihnya
Tak jarang, Murtini harus merangkap peran sebagai pendorong kursi roda. Saat jemaah lansia tak lagi mampu memacu langkah menuju terminal bus shalawat, ia dengan sigap mengambil alih kemudi kursi roda, memastikan tamu Allah tersebut sampai di Terminal Syib Amir, Ajyad, atau Jabal Ka’bah dengan aman. “Kita tidak pernah tahu kondisi fisik seseorang secara pasti. Ada jemaah yang terlihat sangat bugar saat memulai umrah, namun begitu selesai tahallul, tubuhnya seolah tak sanggup lagi menopang beban, kakinya benar-benar lemas,” ungkap Murtini dengan nada penuh empati.
Menghadapi Dinamika Karakter Jemaah
Tantangan terbesar seringkali muncul sesaat setelah waktu salat fardu berakhir. Gelombang manusia yang keluar dari pintu-pintu Masjidil Haram menciptakan kepadatan luar biasa. Dalam situasi penuh sesak dan cuaca panas yang ekstrem, emosi manusia mudah tersulut. Murtini mengakui bahwa menghadapi beragam karakter jemaah adalah seni tersendiri dalam ibadah haji tahun ini.
Gara-gara Tempe Orek, Koper Jemaah Haji Indonesia Dibongkar Paksa di Bandara Jeddah: Simak Aturan Bagasi Terbaru
“Namanya juga manusia, karakternya macam-macam. Ada yang kita tanya dengan lembut, dijawab dengan sangat baik. Tapi ada juga yang ketus atau bicara dengan nada tinggi karena mereka panik atau sudah terlalu lelah,” tuturnya sambil menyunggingkan senyum kecil. Namun, bagi prajurit TNI yang sehari-hari berdinas di Kodiklat TNI Serpong ini, semua itu bukanlah beban. Bekal pelatihan selama sebulan penuh sebelum keberangkatan telah membentuk mentalnya untuk tetap tenang dan ramah, meski hati mungkin sedang dilanda kelelahan yang luar biasa.
Bahasa Daerah: Jembatan Hati yang Tak Terduga
Salah satu aspek unik yang membuat sosok Murtini begitu dicintai adalah kemampuannya dalam berkomunikasi secara kultural. Sebagai perempuan asal Lombok, ia seringkali menjadi penyelamat bagi jemaah asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kurang fasih berbahasa Indonesia. Di tengah kebingungan di tanah asing, mendengar dialek lokal bisa menjadi oase yang menenangkan bagi para lansia.
“Banyak jemaah dari kampung halaman saya yang merasa langsung tenang begitu tahu saya bisa bahasa Lombok. Mereka jadi lebih terbuka bercerita tentang keluhan atau masalah yang mereka hadapi. Rasanya seperti bertemu keluarga sendiri di tengah Makkah,” jelasnya. Kemampuan ini membuktikan bahwa pelayanan prima tidak hanya soal fasilitas, tapi juga soal koneksi hati melalui bahasa.
Kisah Haru di Balik Pengorbanan Jemaah
Dalam sela-sela tugasnya, Murtini seringkali mendapatkan pelajaran hidup yang tak ternilai harganya. Ia menceritakan pertemuannya dengan seorang jemaah lansia yang sempat tersesat. Dalam percakapan mendalam, jemaah tersebut bercerita bahwa ia telah menunggu selama 14 tahun untuk bisa menginjakkan kaki di Baitullah. Perjuangannya tidak main-main; ia menjual sawahnya untuk setoran awal, dan ketika pelunasan tiba, satu-satunya rumah miliknya pun harus dilepas.
“Beliau berkata kepada saya dengan mata berkaca-kaca, ‘Tidak apa-apa saya pulang nanti tidak punya rumah lagi, yang penting saya sudah sampai di rumah Allah’. Kalimat itu menghujam jantung saya,” kenang Murtini. Kisah-kisah pengorbanan luar biasa seperti inilah yang membuat rasa lelah Murtini menguap seketika. Ia merasa beruntung bisa menjadi bagian dari perjalanan suci orang-orang pilihan tersebut.
Antara Tugas Negara dan Kerinduan Ibu
Di balik seragam dinas dan ketegasannya di lapangan, Murtini tetaplah seorang ibu yang memiliki kerinduan mendalam. Jarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Arab Saudi seringkali terasa begitu menyesakkan saat malam tiba. Ia teringat akan kedua buah hatinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, yang biasanya tertidur lelap dalam pelukannya sebelum ia berangkat bertugas ke Tanah Suci.
“Hal yang paling saya kangenin tentu saja anak-anak. Maka dari itu, setiap malam, sesibuk apa pun, saya selalu mengusahakan untuk menelepon mereka. Mendengar suara mereka adalah ‘recharge’ energi paling ampuh buat saya,” akunya jujur. Meski rindu membuncah, Murtini sadar bahwa tugas negara dan pelayanan kepada tamu Allah adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Pesan untuk Seluruh Jemaah
Menutup percakapannya dengan tim UpdateKilat, Murtini memberikan pesan penting bagi seluruh jemaah Indonesia yang saat ini sedang atau akan melaksanakan rangkaian ibadah di Masjidil Haram. Ia meminta agar jemaah tidak perlu ragu atau sungkan untuk menyapa petugas jika mengalami kesulitan apa pun.
“Jangan pernah merasa sungkan. Jika merasa tersesat, kehilangan barang, atau fisik merasa tidak kuat, cari petugas yang memakai seragam resmi PPIH. Kami di sini untuk Anda semua. Keselamatan dan kenyamanan jemaah adalah prioritas utama kami,” tegasnya. Siang itu, obrolan kami harus berakhir ketika sekelompok jemaah kembali datang menghampirinya dengan raut wajah kelelahan. Dengan sigap, Murtini kembali pada perannya: menjadi penyambung lidah, penunjuk arah, dan pilar kekuatan bagi mereka yang sedang mencari rida Ilahi.