Menjaga Marwah Penuntut Ilmu: Mengenal Bahaya Su’ul Adab dan Cara Menghindarinya

Ustadzah Sarah | UpdateKilat
17 Apr 2026, 00:56 WIB
Menjaga Marwah Penuntut Ilmu: Mengenal Bahaya Su’ul Adab dan Cara Menghindarinya

UpdateKilat — Dalam khazanah pendidikan Islam, kecerdasan intelektual bukanlah satu-satunya parameter kesuksesan seorang pelajar. Ada satu fondasi yang jauh lebih krusial, yakni etika atau adab. Fenomena merosotnya nilai-nilai kesopanan, atau yang secara terminologi dikenal sebagai su’ul adab, kini menjadi sorotan tajam di dunia pendidikan, khususnya dalam ekosistem pesantren dan majelis ilmu. Memahami adab menuntut ilmu adalah kunci agar ilmu yang didapat tidak sekadar menjadi tumpukan informasi, melainkan cahaya yang memberi manfaat.

Apa Itu Su’ul Adab?

Secara etimologis, su’ul adab berasal dari dua kata: su’ yang berarti keburukan, dan adab yang bermakna tata krama atau sopan santun. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah ini menggambarkan tabiat atau perangai yang tercela. Namun, dalam perspektif yang lebih dalam, Imam Bukhari mendefinisikan adab sebagai implementasi segala sesuatu yang terpuji, baik dalam ucapan maupun tindakan.

Read Also

Menghadapi Langit yang Tak Kunjung Terang: Panduan Doa dan Amalan Agar Cuaca Kembali Cerah

Menghadapi Langit yang Tak Kunjung Terang: Panduan Doa dan Amalan Agar Cuaca Kembali Cerah

Mengutip buku Adab Thalib karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, pelanggaran etika ini bukan sekadar masalah perilaku sosial. Lebih dari itu, su’ul adab dapat memutus aliran keberkahan ilmu dan merusak harmoni antara guru dan murid. Tanpa adab, seorang pencari ilmu hanya akan mendapatkan lelah tanpa esensi.

8 Manifestasi Su’ul Adab yang Harus Diwaspadai

Agar kita terhindar dari lubang yang sama, berikut adalah beberapa potret nyata su’ul adab yang sering kali tidak disadari oleh para penuntut ilmu:

1. Pudarnya Rasa Takzim kepada Guru

Sikap meremehkan atau membantah guru tanpa alasan yang benar adalah bentuk su’ul adab yang paling fatal. Syekh Nawawi Banten dalam kitab Salalimul Fudhala mengingatkan bahwa siapa pun yang meremehkan gurunya, Allah akan memberikan tiga bala: cepat lupa pada hafalannya, kelu lidahnya, dan di akhir hayatnya ia akan tetap membutuhkan sang guru dalam kondisi yang sulit. Menjaga sikap menghormati guru adalah harga mati dalam menuntut ilmu.

Read Also

Mengupas Ciri Utama Orang Bertakwa: Panduan Spiritual Menuju Surga yang Luas

Mengupas Ciri Utama Orang Bertakwa: Panduan Spiritual Menuju Surga yang Luas

2. Penyakit Sombong dan ‘Ujub

Kesombongan (takabbur) dan merasa bangga pada diri sendiri (‘ujub) adalah racun bagi hati. Imam Al-Mawardi dalam Adab Ad-Dunya Wa Ad-Diin menekankan pentingnya sifat tawadhu. Seorang yang sombong tidak akan pernah bisa menyerap ilmu secara utuh karena ia merasa sudah lebih besar dari kebenaran itu sendiri.

3. Melakukan Kemaksiatan Secara Terang-terangan

Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan masuk ke dalam hati yang gelap karena maksiat. Kisah Imam Asy-Syafi’i yang mengeluhkan buruknya hafalan kepada gurunya, Waki’, menjadi pengingat abadi bahwa kemaksiatan adalah penghalang utama intelektualitas dan spiritualitas.

4. Terjebak dalam Debat Kusir dan Fanatisme

Berdebat hanya untuk memuaskan ego atau menunjukkan keunggulan kelompok adalah ciri ketiadaan adab. Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa suatu kaum bisa tersesat setelah mendapat petunjuk hanya karena mereka lebih suka bertikai dan berdebat daripada mengamalkan ilmu.

Read Also

Menjemput Keberkahan di Penghujung Syawal: Panduan Doa dan Amalan Agar Ibadah Tak Sekadar Singgah

Menjemput Keberkahan di Penghujung Syawal: Panduan Doa dan Amalan Agar Ibadah Tak Sekadar Singgah

5. Futur: Kehilangan Semangat dan Malas

Rasa malas yang berlebihan atau futur terhadap ilmu mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap waktu dan kesempatan yang diberikan Tuhan. Melawan rasa malas adalah bagian dari perjuangan menuntut ilmu yang sesungguhnya.

6. Racun Su’u Zhann (Berprasangka Buruk)

Menaruh kecurigaan tanpa dasar kepada guru atau sesama penuntut ilmu hanya akan merusak ukhuwah dan mengotori hati. Allah SWT secara tegas melarang prasangka buruk karena sebagian darinya adalah dosa yang merusak keberkahan majelis.

7. Ilmu yang Tidak Diamalkan

Puncak dari su’ul adab terhadap ilmu adalah ketika seseorang mengetahuinya namun tidak mempraktikkannya. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah—ia ada, namun tidak memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

8. Mengajar Tanpa Kapasitas

Berani memberikan fatwa atau mengajarkan sesuatu yang belum dikuasai secara mumpuni adalah tindakan yang sangat berbahaya. Hal ini tidak hanya menyesatkan orang lain, tetapi juga bentuk kebohongan atas nama ilmu agama.

Dampak Buruk Su’ul Adab bagi Kehidupan

Perilaku buruk dalam menuntut ilmu memiliki efek domino yang merugikan. Pertama, hilangnya keberkahan ilmu membuat apa yang dipelajari menjadi sia-sia. Kedua, hati yang tertutup oleh kesombongan akan sulit memahami kebenaran yang mendalam. Ketiga, rusaknya hubungan sosial yang berujung pada perpecahan. Terakhir, pelaku su’ul adab akan menjadi teladan buruk bagi generasi setelahnya.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari sifat-sifat tercela dan terus berusaha menghiasi diri dengan adab sebelum ilmu. Sebab, ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, namun adab tanpa ilmu akan membuat seseorang tertinggal.

Ustadzah Sarah

Ustadzah Sarah

Penulis konten religi dan lulusan studi Islam yang berdedikasi menyebarkan konten positif di Kilat Islami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *